Dua bulan yg lalu saya pulang ke Palembang krn sahabat saya menikah. Yup, waktu kuliah di Unsri, saya punya 2 sahabat cewek. Yang pertama, Nani, udah nikah satu bulan sebelum yang kedua. Yang kedua, Untari, nikah satu bulan setelah yang pertama. Loh kok jd njelimet gini hehe. Jadi Nani nikah bulan Maret, Untari bulan April. Karena Nani resepsi di Jakarta jd saya ga perlu pulang, sementara Untari, akad dan resepsi di Palembang jd saya mesti pulang. Perasaannya gimana Ida? Ya sueneng dunk sahabat nikah. Nikah itu kan ibadah. Ah masak? Ga sedih ato minder gitu jd satu2nya yg msh lajang? Ya enggak la, saya hepi kl sahabat2 saya hepi, i can feel their happiness, really!
Nah, singkat cerita pulanglah saya ke Palembang. Jumat malem saya ke rumah Uun. Disana akan dilaksanakan tradisi melepas lajang, Mapacci namanya. Oh iya, ibunya Uun kebetulan berasal dari Sulawesi Selatan jd mulai dari kedua kakaknya, selalu dilaksanakan tradisi ini.
Upacara adat mappaci dilaksanakan pada waktu menjelang acara akad nikah/ijab kabul keesokan harinya. Sebelum acara mappaci dimulai, calon mempelai dipersilakan menuju pelaminan. Pelaminan dengan dua orang pendamping. Mereka duduk di dalam pelaminan yang bertahtahkan kain emas.

di pelaminan
Upacara mapacci adalah salah satu upacara adat Bugis yang dalam pelaksanaannya menggunakan daun pacar atau Pacci. Sebelum kegiatan ini dilaksanakan biasanya dilakukan dulu dengan khatam Al-Quran. Daun pacci ini dikaitkan dengan kata paccing yang maknanya adalah kebersihan dan kesucian. Dengan demikian pelaksanaan mappaci mengandung makna akan kebersihan raga dan kesucian jiwa.

Khatam Alquran
Dalam pelaksanaan mappacci disiapkan perlengkapan yang kesemuanya mengandung arti makna simbolis seperti:
- Sebuah bantal atau pengalas kepala yang diletakkan di depan calon pengantin, yang memiliki makna penghormatan, martabat, atau kemuliaan. Dalam bahasa bugis berarti mappakalebbi.
- Sarung sutera 7 lembar yang tersusun di atas bantal yang mengandung arti harga diri.
- Di atas bantal diletakkan pucuk daun pisang yang melambangkan kehidupan yang berkesinambungan dan lestari.
- Di atas pucuk daun pisang diletakkan pula daun nangka sebanyak 7 atau 9 lembar sebagai permakna harapan atau menasa.
- Sebuah piring yang berisi wenno yaitu beras yang disangrai hingga mengembang sebagai simbol berkembang dengan baik.
- Patti atau lilin, yang bermakna sebagai suluh penerang. Juga diartikan sebagai simbol kehidupan lebah yang senantiasa rukun dan tidak saling menganggu.
- Daun pacar atau pacci, sebagai simbol dari kebersihan dan kesucian. Penggunaan pacci ini menandakan bahwa calon mempelai telah bersih dan suci hatinya untuk menempuh akad nikah keesokan harinya dan kehidupan selanjutnya sebagai sepasang suami istri hingga ajal menjemput. Daun pacar atau pacci yang telah dihaluskan ini disimpan dalam wadah bekkeng sebagai permaknaan dari kesatuan jiwa atau kerukunan dalam kehidupan keluarga dan kehidupan masyarakat.

Pernik Pacci
Acara mappaci dimulai dengan mengundang satu per satu tamu yang telah ditetapkan. Mereka diminta mengambil sedikit daun pacci yang telah dihalusakan dan diletakkan di telapak tangan calon mempelai, sambil seorang ibu yang mendampingi calon mempelai. Tamu yang diminta untuk meletakkan pacci biasanya adalah orang-orang yang mempunyai kedudukan sosial yang baik dan mempunyai kehidupan rumah tangga yang bahagia. Semua ini mengandung makna agar calon mempelai kelak di kemudian hari dapat hidup bahagia seperti mereka yang meletakkan pacci di atas tangannya.

Pacci dari Keluarga
Setelah semua tamu meletakkan pacci maka seluruh hadirin bersama-sama mendoakan semoga calon mempelai direstui oleh yang maha kuasa agar kelak keduanya dapat menjadi suri tauladan karena martabat dan harga dirinya yang tinggi. Selesai sudah acara adat khas Bugis ini. Saatnya foto2…..

Calon Penganten dan Bakal Calon Penganten hehe
PS: skrg sahabat saya ini udah hamil 6 minggu loh.. whuaaa congrats ya Un.. tokcer dah! ntar ilmunya disharing ya hahaha
sunarnosahlan said,
June 21, 2009 at 9:04 am
udah siap jadi pengantin berikutnya?
dyahsuminar said,
June 21, 2009 at 8:44 pm
mbak ida…calon penganten nya….jangan lama2,kok CALON teruuus. Bunda doakan ya..segera menyusul ,bunda tunggu undangannya.
Oh ya..bunda baca lengkap adat pernikahan Plembang….seru,seribu warna dan keemasan berkilau ya..
Bunda jadi ingat waktu keponakan menikah…persis pakai adat seperti ini..karena kakak ipar memang orang Palembang…tidak kalah rumit dengan adat jawa…banyak uba rampenya juga…
Sigit P said,
June 22, 2009 at 8:01 am
Aku yakin Ida mah udah siap saja ya…so, kapan Mas-mu siap Da?
edratna said,
June 22, 2009 at 2:10 pm
Cerita yang menarik Ida, lengkap dengan foto2nya.
1nd1r4 said,
June 22, 2009 at 6:58 pm
kayanya berat banget aksesoris pengantennya, gelangnya aja banyak banget
Kakanda said,
June 23, 2009 at 9:51 am
Calon pengantin harus mengkhatamkan Qur’an dulu ?
bagus,…
semoga setelah menikah tidak lupa dengan Qurannya
eko said,
June 23, 2009 at 10:40 am
upacaranya banyak juga ya
kapan nyusulnya nih?
ichanx said,
June 24, 2009 at 6:54 am
bakal calon pengantennya mau pengantenan kapan?
Cara Buat Web said,
June 24, 2009 at 1:40 pm
Wah.. udah siap nusul ya? buruan nusul dech biar cepet dapat pahala juga, nikah kan dapat pahala! mengikuti sunnah begitu lho!
dewifatma said,
June 24, 2009 at 4:33 pm
Ayo, Ida kapan nyusul?… Kado udah nunggu nih, siap dipaketkan!
nAsruni said,
July 2, 2009 at 8:52 pm
Semoga segera nyusul…
aldi said,
July 6, 2009 at 10:59 am
keren ya upacara daerah/adat itu?
jadi inget waktu dulu, itupun keitungnya sederhana.. ga seheboh yg ini …
sesuatu yg harus dilestarikan …
Ida nanti mo pake upacara adat kan? mmm kapankah Ida?
*ndorong2
tutinonka said,
July 7, 2009 at 11:05 pm
Ikut berbahagia atas pernikahan sahabat Ida. Kalau besok Ida yang menikah, pasti kisahnya muncul lengkap di blog kan? Ditunggu …
Puspita W said,
July 17, 2009 at 11:46 am
Jadi belajar adat Bugis. Terima kasih ilmunya. Semoga calon bakal mantennya cepat menyusul. Amin.
Salam kenal.
aziz said,
July 17, 2009 at 9:18 pm
owh..,.
baru tau artinya “mapacci”
jiwakelana said,
July 29, 2009 at 2:24 am
jadi mappaci tu upacara pelepasan masa lajang ya.. btw kapan nyusul temannya..?
agoesman120 said,
July 29, 2009 at 11:51 am
Selamat dach… siapa lagi yg mau nyusul ke …..pelaminan
nh18 said,
July 31, 2009 at 3:10 pm
Sungguh kaya budaya kita …
Adat Bugis dilakukan di Palembang … Indah niaaannn …
Salam saya
Ria said,
July 31, 2009 at 4:27 pm
Da…hehehehe adatnya adat bugis itu ribet dan lama, kebetulan aku juga orang sana jadi malu nih…ulasannya lengkap banget padahal aku aja gak pernah nulis beginian hehehehe.
jadi kapan mo walimahnya…???
rasyid said,
August 16, 2009 at 5:31 pm
mampir bentar ke blog sahabat, mencari sesuatu yang bisa dimakan
Zico Alviandri said,
August 26, 2009 at 8:17 am
Wah ribet ya
Dimana-mana adat ribet. Tapi ambol positif ajah
zipoer7 said,
September 17, 2009 at 10:16 am
Salam Takzim
Wuih hidangan yang full color, jadi mau
arrrya said,
September 30, 2009 at 11:04 am
Mbak ida undangannya mana..????
adityahadi said,
November 19, 2009 at 4:14 am
wahhh, repot juga yah …
maksudnya ilmu yg mana neh yg mw dibagi2, kutu minta juga dunk ^^